Rafiq & Sari (2)

Rafiq & Sari (2)



Namun, keinginan Wahyudi untuk mengajak Rafiq ikut berdemonstrasi tak membuahkan hasil. Rafiq menganggap bahwa demo tanpa henti itu merusak perekonomian dan menyengsarakan rakyat. Akibatnya, Rafiq pun menjadi bahan olokan teman-teman Wahyudi.
Mobil yang mereka tumpangi, yang disetir oleh Wahyudi, kembali meluncur di jalan-jalan Jakarta yang lengang. Wahyudi dan Rafiq terhanyut dalam lamunan masing-masing. Wahyudi tidak suka Rafiq diolok, ia sayang dan menghormati Rafiq. Ia memandang ke arah Rafiq, yang sedang melamun di sampingnya. Ia ingin membuat Rafiq terkejut.
“Rafiq,” katanya, “aku ingin memperlihatkan hal lain padamu. Suatu soal, suatu teka-teki. Aku akan minta kamu memecahkan soal itu. Kamu mengatakan, keadaan dapat diperbaiki dengan dakwah, bukan? Apa pendapatmu tentang pelacuran, perjudian, dan bermabukan?”
Rafiq memandang Wahyudi dengan heran. “Mau apa lagi kamu, Yud? Yang kamu sebut itu adalah dosa. Mau mengajak aku berdosa?”
“Bukan, Fiq. Aku ingin memperlihatkan suatu masalah sosial padamu. Bukan suatu masalah ilmu pasti. Ayo, sudah waktunya kamu keluar dari kenaifanmu!” kata Wahyudi. “Soalnya, aku ingin bisa diskusi denganmu tentang hal yang lebih rumit daripada ilmu pasti. Aku ingin bisa berdiskusi denganmu tentang yang tidak pasti!”
Lalu, Wahyudi membelokkan mobil dan menancap gas. Setelah beberapa lama mobil meluncur di jalan yang makin ramai, tibalah mereka di suatu tempat. Di sini tidak terlihat suasana tegang, tidak seperti rapat dewan tadi. Keramaiannya mengingatkan Rafiq pada pasar malam. Taksi diparkir berjajar di pinggir jalan. Orang ramai lalu-lalang. Warung-warung masih buka, meskipun jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
Wahyudi memarkir mobil di pinggir jalan, mengajak Rafiq turun. “Selamat datang di serambi neraka,” kata Wahyudi, santai. “Banyak yang bilang, di sini tempatnya orang mendapatkan jodoh!”
Ia memerhatikan Rafiq untuk melihat, apakah temannya itu akan kaget. Tapi, ia kecewa. Raut wajah Rafiq biasa saja. Berdampingan kedua sahabat itu menuruni jalan sempit yang becek, di samping kali berair hitam, berminyak, dan berbau.
Kerumunan manusia serba-rupa mendesak masuk suatu kampung buruk, melalui rumah-rumah batu bata dan batako, rumah kayu. Ada rumah yang sebagian bertumpu di atas tonggak di atas kali, ada yang dibangun menempel di pinggiran, seolah tanpa aturan. Tapi, tempat itu terang benderang, karena lampu menyala di mana-mana: lampu neon, lampu pijar, lampu halogen. Musik pop, rock, dan dangdut memekakkan telinga Rafiq.
Mata Rafiq makin membelalak saat pandangannya tertumbuk pada adegan-adegan yang tidak pernah dapat ia bayangkan. Puluhan pria berdesakan di sekitar meja, yang ditutup berbagai angka dan tanda dalam gambar kotak. Tangan mereka penuh lembaran uang. Dalam kotak-kotak di meja, uang menumpuk dalam berbagai pecahan. Rafiq menduga, tumpukan itu bernilai jutaan. Di balik tiap meja, duduk bandar-bandar, yang terus-menerus mengatur para penjudi untuk memutar dadu dalam mangkuk, membukanya, mengumpulkan jutaan rupiah dari meja, lalu memilah, menghitungnya, dan mengembalikan sebagian ke pemasang yang kebetulan menang.
“Fiq, banyak orang tidak tahu, seseorang dapat menang dengan teratur asal ia mengerti perhitungan kemungkinan. Bandar selalu menang karena penjudi ketagihan psikologis. Mereka tidak berjudi untuk menang, tapi untuk berjudi. Tapi, kalau ingin menang, ada aturannya. Pertama…,” kata Wahyudi.
“Sudah!” Rafiq hampir berteriak. “Aku tidak mau tahu! Apakah ini yang kamu kerjakan selagi menghilang berhari-hari? Bukankah judi dilarang?”
Wahyudi tersenyum puas melihat temannya kaget. “Ini belum apa-apa, Fiq. Nanti ada lagi yang akan membuatmu pingsan berdiri!”
Sesuai janjinya, dalam beberapa saat lagi Rafiq benar tertegun. Dari tempat terang benderang, mereka memasuki gang gelap, dan tiba di suatu lapangan kecil dikelilingi rumah-rumah yang reot, tapi penuh sesak oleh manusia. Di sana puluhan wanita berjalan-jalan, berdiri, dan duduk-duduk. Ada yang belasan tahun, ada yang kelihatan sudah berkepala tiga. Riasan menor membuat wajah-wajah mereka kelihatan pucat dalam sinar remang-remang.
Rafiq berdiri. Ia tercenung melihat wanita-wanita itu berpakaian seronok: rok mini, baju ketat, yang memperlihatkan perut atau belahan dada mereka. Tanpa disadari ia memegang tangan Wahyudi erat-erat. Bagi Rafiq, kedekatan fisik dengan sesama jenis, termasuk mencium pipi, adalah wajar, dan kedekatan fisik dengan lawan jenis yang bukan muhrim adalah haram. Bagi Wahyudi, kedekatan fisik pada sesama jenis hanya mungkin dalam olahraga, dan mencium pipi sesama pria berbau homo. Sebaliknya, memegang tangan atau mencium pipi lawan jenis, biarpun bukan muhrim, adalah biasa.
Tiba-tiba seorang wanita setengah baya menghampiri mereka. Ia pendek, gemuk, berias menor. Ia bercelana pendek dan berbaju ketat, seperti layaknya anak muda. Ia menuju Wahyudi, yang secara sembunyi-sembunyi menunjuk ke arah Rafiq. Wanita itu mendekati Rafiq, yang mengamati gerak-geriknya dengan khawatir, lalu memegang lengan Rafiq, seolah-olah Rafiq adalah suami atau anak laki-lakinya. Sekujur badan Rafiq menjadi tegang.
“Aduh, cakepnya!” kata wanita itu dengan suara yang dibuat-buat. “Cari apa, Sayang?”
Rafiq ingin melepaskan tangannya dan lari. Tapi, ia dididik dengan baik. Ia tidak tahu cara tidak sopan dalam memperlakukan wanita. Ia panik. Lidahnya kelu, matanya mencari jalan keluar, lalu ia memandang Wahyudi dengan memelas. “Wahyudi, apa-apaan ini?”
Wahyudi menyembunyikan tawanya dan menarik Rafiq keluar dari cengkeraman halus wanita tadi. “Mungkin, lain kali saja, Mbak!”
“Ah, dasar!” kata wanita itu, mengumpat. “Kalau tidak punya uang, bilang terus terang, dong!”
“Yud, pulang, Yud!” pinta Rafiq. “Mau apa kita di sini?”
“Fiq, aku mau memberi teka-teki. Sudah lupa? Kamu bicara tentang hidup dan bagaimana seharusnya hidup, tapi kamu tidak tahu caranya hidup. Sekarang, aku tunjukkan cara menikmati hidup!”
“Teka-tekinya?”
“Sifat teka-teki adalah teka-teki. Maksudku, bukan teka-teki anak-anak. Maksudku, teka-teki bagi pemikir. Kita tidak harus hidup seperti katak di bawah tempurung, ‘kan,” kata Wahyudi.
Wahyudi lalu membimbing Rafiq keluar-masuk beberapa gang kumuh, sampai mereka tiba di suatu rumah besar bertingkat di pinggir kali. Rafiq melihat seperti ada pesta di dalam rumah itu. Sejumlah pria dan wanita duduk-duduk mendengar musik. Meja-meja penuh botol dan gelas. Berbeda dari tempat sebelumnya, semua wanita di ruangan itu muda, menarik, dan seksi. Ada yang menari, ada yang duduk menempel dengan tamu pria, dan ada yang bertugas sebagai pelayan, membawa bir ke sana kemari.
Wahyudi menarik Rafiq ke satu bangku dan mereka duduk di sana. “Fiq, aku akan meninggalkan kamu selama satu jam. Kamu di sini saja, jangan ke mana-mana, nanti tersesat dan bisa-bisa dirampok. Nikmati saja musik, pesanlah minum, pelajari apa yang kamu lihat. Dalam satu jam aku kembali dan akan bertanya padamu apa arti semua ini. ”
“Kamu yang akan bertanya?”
“Ya. Setelah itu, kamu boleh bertanya. Sampai nanti!”
“Wahyudi, masa aku di sini terus? Ini kan tempat orang!”
“Ini tempat umum, seperti restoran dan hotel. Pokoknya, pesan sesuatu. Aku pergi dulu. ” Dan Wahyudi menyelinap dalam gelap, meninggalkan Rafiq sendiri. Sesaat ia berhenti dan melihat ke belakang, ragu-ragu. Tapi, ia mengatakan pada dirinya sendiri, “Dia shock, tapi tidak akan tergelincir. Orang lain mungkin tergelincir, tapi Rafiq tidak. Ia naif, tapi tidak lemah. ”
Rafiq duduk diam, hampir tidak berani bergerak, takut ada yang memerhatikan. Ia juga tidak berani memerhatikan orang-orang di sekelilingnya, tidak berani memandang wanita-wanita cantik di sekitarnya.
Tanpa ia sadari, ia diperhatikan seseorang, yang bukan tamu di sana. Tingginya sedang. Dari garis wajahnya, sepertinya ia berdarah campuran. Ia setengah baya, tapi kelihatan muda. Agak gemuk, tapi tegap. Badannya tidak bagus, tapi ia bergerak dengan yakin. Di kedua lengan bawahnya terdapat tato kelabang yang melingkar sampai pergelangannya. Ia tampan untuk pria seumurnya. Matanya bergeser ke kiri ke kanan dengan tidak tenang. Tapi, mata itu sekarang tertuju kepada Rafiq, tanpa berkedip. Mata itu bagaikan radar, menelanjangi Rafiq di otak laki-laki itu.

Penulis: Iwan Cipto